Minggu, 09 Oktober 2016

Dengan #BatikIndonesia, Ayo Kita Indonesiakan Dunia!!

Sebelum saya berbicara panjang lebar tentang batik, lebih dahulu saya ingin mengucapakan :
"Selamat Hari Batik Nasional tanggal 02 Oktober 2016"
 Dengan menjunjung semangat tinggi nasionalisme, mari kita terus lestarikan batik Indonesia!! Jayalah batik Indonesia!!

Rabu, 05 Oktober 2016

Biarkan Tetap Terjaga

Ketika pintu itu kubuka, kulihat lambaian tangan padaku. Ia tersenyum bahagia, sangat bahagia. Hidupnya tampak damai. Aku iri melihatnya. Ia punya ingin yang kutahu itu sama denganku. Namun tak kulihat ia sibuk, sesibuk aku. Aku bingung juga terkesima. Hidupnya luar biasa. Tuhan menciptakannya begitu tertata. Emosinya, pengharapannya, perilakunya begitu mempesona. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dan tiada. Namun aku ingin belajar darinya. Belajar menemukan kedamaian yang abadi. ~ Catatan kegundahan
 
Kalian punya mimpi? Punya harapan untuk jadi seorang yang begini atau mungkin seorang yang begitu? Kalian pasti memilikinya dalam sebuah daftar yang disebut "Impian".

Tetapi ada satu pertanyaan yang harus kalian pikirkan :
" Mengapa manusia harus punya impian padahal manusia tak pernah merasa puas?"

Ada seorang teman yang pernah berkata begini :
"Impianku sudah hilang semenjak aku merengkuhnya."

Pasti kalian bertanya-tanya, "Apa yang direngkuhnya bukan?"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada sebuah pertanyaan baru untuk kalian:
"Apa akhir dari impian?"

Salah atau tidak, menurut saya akhir dari sebuah impian itu adalah profesi.
"Tapikan itu profesi yang hati saya inginkan?"

Dulunya saya berpikir begitu. Impian akan mengantarkan kita menuju profesi yang kita inginkan, pekerjaan yang kita cintai, kita harapkan. Namun sayang, hal itu tidak berakhir sampai di situ saja. 

Impian itu akan terus berjalan sampai kita benar-benar lelah untuk terus merengkuhnya.

Percaya atau tidak, kita pasti akan merasakan benar-benar lelah dalam mencapai sebuah impian.

Ada suatu fase, dimana kepompong yang diharapkan dapat mengeluarkan seekor kupu-kupu cantik, namun nyatanya tidak demikian, kepompong itu justru mengeluarkan kupu-kupu yang tak pernah diharapkan. Demikian pula dengan impian.

Apa yang kita inginkan bukan berarti harus terwujud semuanya. Ada orang yang mendapatkannya satu per satu dengan cara yang mudah, tetapi tak sedikit orang yang harus bersusah payah untuk merengkuhnya. Ya, demikianlah impian.

Tetapi bukan berarti kalian harus berhenti. Meskipun pada akhirnya akan merasa benar-benar lelah, setidaknya biarkan ia tetap terjaga.

Dengan begitu, rasa lelah itu akan ada penawarnya. Sesuatu yang suram perlahan-lahan mulai terang. Harapan yang sudah hilang, muncul lagi bersama dengan keputusasaan yang sirna, dan kalian, kalian akan berproses lagi dan lagi. Semua akan terus  dan selalu begitu. Takkan pernah berubah dari seperti itu.

Oleh karena itu, biarkan impian itu mengabadi dalam sukma Anda, mendarah daging di tubuh Anda, hingga akhirnya Anda percaya bahwa Anda tidak benar-benar berada di titik itu-itu saja.

Salam literasi,

Diis Yosri

Rabu, 28 September 2016

2100

Surat Pertama dari abad 21 :
 
Perkenalkan, aku Meesha. Cucu dari cucu-cucu-cucu-cucu dan cucu moyang kalian terdahulu. Aku adalah manusia abad 21. Melalui surat ini, aku akan mulai bercerita tentang abad tempat aku menapakkkan kaki saat ini. Aku sengaja mengirimkan surat ini pada kalian manusia abad 20. Sebab aku ingin menceritakan segala kegelisahan dan kebosananku di abad 21 ini. Ya, mungkin hanya itu.
Ini surat pertama sekaligus surat-surat pembuka berikutnya yang akan kalian dapatkan di hari-hari berikutnya. Aku berharap, suatu saat nanti kalian dapat mengirimkan balasan padaku dan bisa menceritakan apa yang ada di abad 20, karena untuk kembali ke abad 20, dibutuhkan dana yang sangat besar. Jadi, aku tak mungkin kembali ke sana. Namun sudahlah, aku tak memaksa kalian untuk membalas suratku. Tetapi semoga suratku ini dapat menjadi cerita yang menyenangkan untuk kalian konsumsi.
Di suratku yang pertama ini aku belum akan menceritakan secara rinci tentang abad 21. Aku tahu kalian pasti kecewa membacanya. Aku pun begitu. Lalu nau bagaimana lagi? Jika aku ceritakan semuanya hari ini, kalian takkan lagi penasaran dengan surat-suratku berikutnya. Aku tak mau itu terjadi, karena hanya surat inilah obat penawar bosan yang kuderita saat ini. Sudahlah, aku tak ingin bicara panjang lebar mengenai kebosananku ini, karena kalian pasti sangat tidak tertarik untuk mendengarkannya. Baiklah, kalau begitu langsung saja, kukenalkan abad 21 pada kalian.
Halo manusia abad 20, Selamat Datang di abad 21 :)
Abad dimana kalian akan menemukan teknologi berkembang begitu pesat. Kalian tahu? Abad 21 merupakan abad pertama yang memiliki kecanggihan teknologi di luar dugaan manusia. Apa saja dapat dilakukan dengan teknologi. Semua kegiatan manusia abad 21 pun serba teknologi. Mau makan, minum, tidur, kerja dan lain-lain pasti selalu bersinggungan dengan teknologi. Hebat bukan??
Jujur saja, ketika pertama kali aku terlahir sebagai manusia super moderen, aku merasa sangat penasaran. Aku ingin coba teknologi ini, coba teknologi itu, semua teknologi yang tersedia ingin aku coba semua.
Awalnya aku berpikir, kecanggihan teknologi ini akan membuat manusia hidup dengan aman dan nyaman. Namun setelah aku hidup sekian lama sebagai manusia super moderen, aku berpikir sebaliknya.
Ada suatu kejenuhan yang mengalir dalam darahku dan distimulus dengan baik oleh otakku. Tanpa perlu aku bilang "bosan", otakku sudah mengatakan hal itu duluan.
Teknologi yang terus diperbaharui membuatku terus bertanya tentang hakikat keberadaan manusia? Apalagi yang dapat manusia lakukan setelah semua pekerjaannya teknologi yang lakukan? Dimana lagi arti seorang "manusia" di abad ini?, entah mengapa setiap ada teknologi baru yang dilahirkan, aku merasa semakin tidak senang.
Abad 21 yang dibayangkan oleh banyak orang, tidak terwujud sedemikian rupa. Meskipun benar bahwa teknologi sudah mempermudah segalanya. Tetapi di sisi kehidupan lainnya, segalanya jauh dari kata "indah".
Mengapa aku berkata demikian teman? Baiklah, akan kuceritakan satu per satu.
Aku akan mulai bercerita tentang manusia abad 21 lebih dulu. Kalian pasti berpikir bahwa manusia abad 21 itu cerdas-cerdas dan keren sekali bukan?
Teman, yang kalian pikirkan nyaris benar tetapi juga mendekati salah. Orang-orang abad 21 memang cerdas. Segala teknologi bisa diciptakan dalam waktu cepat. Kalian tinggal bilang mau teknologi apa, maka dalam waktu sekejap, tadaaaaaa.....teknologi pun siap digunakan.
Kalian pasti pernah melihat doraemon bukan?
Ya, kira-kira teknologi abad 21 hampir sama seperti itu. Seperti doraemon yang bisa menyediakan apapun dalam sekejap, abad 21 pun begitu. Manusia abad 21, pemikirannya di luar dugaan. Apa yang mustahil di zaman kalian, maka di abad 21 itu adalah kenyataan.
Tidak hanya mahir dalam hal teknologi saja, manusia abad 21 juga begitu cerdas berdiplomasi. Politik di abad 21 lebih kejam daripada abad 20. Orang-orang dengan kepentingan A dan memiliki segenap kekuasaan, maka akan lebih mudah menghancurkan orang-orang dengan kepentingan B. Saling singkir-menyingkirkan sudah menjadi budaya yang amat biasa bagi manusia abad 21.
Tidak ada lagi kata hormat pada yang lebih tua. Hormat hanya akan diberikan pada seseorang yang memiliki prestasi yang melimpah dan imajinasi luar biasa. Tak peduli apakah manusia itu lebih muda, jika dia memiliki segudang prestasi maka kehormatan akan selalu mengiringi hidupnya, teman.
Manusia abad 21 sangat menekankan prestasi dan imajinasi. Seseorang yang berimajinasi tinggi, seluruh kehidupannya akan berakhir di laboratorium. Manusia itu takkan pernah keluar dari sana hingga kematian datang padanya. Sedangkan orang-orang yang berprestasi, hidupnya akan berakhir di pemerintahan yang menyebalkan. Sekedar informasi teman, pemerintahan abad 21 hanya akan menerima orang-orang dengan segudang prestasi.
Pasti kalian sedang bertanya-tanya, bagaimana bisa mengetahui apakah manusia tersebut memiliki tingkat imajinasi tinggi dan prestasi yang mumpuni?
Tunggu saja surat dariku berikutnya, teman.
Tertanda manusia abad 21
Meesha.

Minggu, 26 Juni 2016

Away from Me

Part. 2

"Tolong, dengarkan aku!" kata Shiren memohon

Aku terus menatapnya tajam. Tak sedikit pun mataku berpaling darinya. 

"Alasan mengapa aku pergi, aku tahu engkau pasti takkan mampu menerimanya."

"Seandainya aku dapat memilih.."

"Kamu sudah memilih." jawabku

"Dan pilihanmu itu sangat menyakiti hatiku. Hatiku sangat hancur!!" nada bicaraku mulai naik

Aku tak tahu setan apa yang merasuki diriku. Emosiku terlanjur meluap dan aku tak mampu mengendalikannya. Entah mengapa aku bersikap seperti anak-anak saat ini. Tak peduli akan perasaan orang lain dan yang paling penting adalah perasaanku sendiri, perasaan yang membebani diriku begitu melihat orang yang sudah kuanggap mati, hadir lagi di hidupku. Dia harus tahu, harus tahu bagaimana hatiku menahan semua kepedihan itu, tekanan bertubi-tubi yang selalu kutahan. Ya, dia harus tahu!!

"Dengarkan aku baik-baik!!" kupegang kedua lengannya begitu kuat, mataku menatapnya tajam

"Setelah hari dimana kamu pergi meninggalkanku, maka setelah hari itu juga hidupku hancur karenamu. Lalu kemudian kamu muncul lagi hari ini untuk menjelaskan semuanya. Apa menurutmu itu akan sangat berguna? Apa hatiku yang sudah terlanjur sakit ini akan coba memahaminya? Apa itu yang kau pikirkan? Apa itu yang membuatmu muncul lagi di hadapanku saat ini? Apa itu? Hah?!" aku menyentaknya dengan suara yang kuat, napasku terengah-engah rasanya. 

Kelepaskan genggamanku dari kedua lengannya. Aku mencoba mengatur napas pelan-pelan dan menstabilkan emosiku yang tadi meluap-luap. Kepejamkan mataku perlahan agar bisa kembali tenang. Suasana mendadak begitu hening dalam beberapa saat.

"Kamu." ucapku sambil membuka mata

"Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa mengobati hatiku. Sampai kapan pun Shiren, sekali pun kamu coba sampai berkali-kali, hatiku ini tetap akan merasakan sakit dan kamu tidak akan pernah mengerti!" ucapku dengan nada lirih

"Satu hal yang membuatku sangat menyesal, mengapa takdir pernah membuatku begitu tergila-gila padamu? Bagaimana bisa takdir membuat diriku ini mencintai wanita sepertimu, Shiren? Bagaimana bisa?" 

Air mataku jatuh begitu saja. Tak tahu sebabnya mengapa aku tiba-tiba ingin menangis begini. Mengapa aku begitu kekanak-kanakkan saat ini? 

"Wisnu, aku.." tangannya mencoba memegang wajahku

"Stop, stop it." ucapku pelan

"Jangan pernah jelaskan alasanmu itu, jangan katakan apapun lagi." kataku memberi penegasan

"Tapi.." katanya dengan nada sedih

"Kita takkan pernah mungkin lagi bersama, tidak akan pernah." ucapku kembali menatapnya

Aku melihatnya juga meneteskan air mata. Namun entah mengapa aku sama sekali tak merasa iba. 

"Karena rasaku ini..." kepejamkan mataku sambil menelan ludah

"Karena rasaku ini sudah mati bersama cintaku yang juga memilih pergi." ucapku lalu meninggalkannya

Aku tak tahu mengapa rasa sesal tiba-tiba bergelayutan di hatiku setelah aku mengatakan hal itu. Ini sangat aneh hingga otakku gagal mencerna semua yang telah terjadi. Aku terus bertanya mengapa Tuhan mengirimkannya untuk kembali lagi di hidupku? Apa maksud dari semua ini? Lalu mengapa hatiku yang sudah sangat sakit ini malah justru membuat jantungku berdebar kencang lagi? Dan mengapa ini semua terasa membingungkan? Adakah seseorang yang mampu menjawabnya? Aku tak ingin seperti ini, Tuhan. Aku tak ingin wanita membuatku menjadi begitu lemah. 

Aku memutuskan untuk pergi ke tempat biasa yang kujadikan untuk menenangkan diri. Sepanjang perjalanan, pikiranku entah melayang kemana-mana. Otakku masih terbayang-bayang kejadian yang baru saja terjadi. Aku tidak bisa fokus. Aku memilih berhenti sejenak dipinggir jalan yang ada dekat jembatan. Aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghirup udara sejenak. Namun, belum sempat kakiku sampai di dekat jembatan, ponselku tiba-tiba berdering. 
Aku langsung mengeluarkannya dari saku. 

"Apalagi sih Rik?!" jawabku dengan nada sebal

"Shiren kecelakaan, aku di rumah sakit sekarang." kata Riko

Aku hening seketika. Kedua kakiku rasanya tak kuat lagi untuk menopangku. Aku hampir saja terjatuh. Begitu pula ponsel yang kupegang hampir saja terjatuh. Rasanya seperti waktu mendadak lenyap dan semua hal yang terjadi itu hanya sebuah ilusi. 

"Wisnu!!" Riko berteriak

"Maaf Rik, maaf." ucapku gugup

"Kau datanglah ke sini." suruh Riko

"Kau beritahu saja alamat lengkap rumah sakitnya, aku segera ke sana sekarang."

Aku langsung mengakhiri panggilannya dan bergegas masuk ke mobil. Tak lama setelah aku menyalakan mobilku, sms pemberitahuan datang dari Riko. Aku langsung membukanya dan dengan cepat memasukkan perseneling lalu menginjak gas mobil untuk segera muncul ke rumah sakit tersebut.

Aku sudah menyetir tanpa akal sehat. Aku tak lagi mempedulikan keselamatanku. Satu-satunya hal yang ada di pikiranku adalah bagaimana caranya aku bisa secepat mungkin untuk sampai ke rumah sakit itu. Alhasil, dalam waktu sekitar setengah jam, liukan mobilku yang acak-acakkan berhasil membuatku sampai di rumah sakit itu. 

Dengan cepat aku memarkirkan mobilku dan segera berlari menuju tempat dimana Riko berada saat ini. Aku mengambil ponselku untuk menghubungi Riko. 

"Halo, kau dimana Rik?" tanyaku sambil berlari

"Kau dimana sekarang?" kata Riko

"Aku di lobi." jawabku dengan napas terengah-engah

"Kau lurus saja sampai menemukan dua lorong, di situ kau ambil arah kanan."

"Oke." jawabku lalu mengakhiri panggilan

Aku berlari lagi sesuai dengan instruksi Riko, hingga akhirnya aku berhasil menemukannya. 

"Bagaimana Rik?" tanyaku langsung

"Masih menunggu, nah itu dokternya. Ayo!"

Kami melangkah menghampiri dokter. 

"Bagaimana dokter?"

"Anda berdua keluarganya?"

"Ya dokter, kami keluarganya." 

"Ada sebuah cedera serius yang dialami oleh pasien di bagian kepalanya. Analisis kami saat ini adalah cedera itu menyebabkan terjadinya gegar otak dan gegar otak ini masuk dalam tipe gegar otak yang menghapus seluruh memori masa lalunya sampai masa sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun untuk mengetahui secara lebih detailnya, kita harus menunggu pasien sadar lebih dulu."

Aku terdiam tak mampu mengatakan apapun lagi. 

"Baik dok, terima kasih." ucap Riko

"Jika ada hal yang ingin ditanyakan lebih lanjut, silahkan datang ke ruangan saya. Saya permisi dulu!"

"Iya dok, silahkan!" jawab Riko

Aku hanya diam dan memilih duduk di kursi. Saat ini aku tak tahu harus bagaimana. Riko menghampiriku lalu duduk di sampingku. 

"Ini pasti akan menjadi hal yang sangat berat untukmu."

"Aku terlalu bingung untuk menjawabnya."

"Kita tak punya banyak pilihan, Wisnu. Kita tak punya itu."

"Lalu bagaimana aku harus menjawab takdir Tuhan ini? Bagaimana?"

"Bagaimana? Aku yakin kamu pasti tahu." Riko beranjak pergi meninggalkanku

"Tetapi aku tak yakin kalau aku tahu." ujarku juga memilih pergi dari tempat itu


To be continue...


Sabtu, 25 Juni 2016

Aplikasi Garda Mobile Medcare : Solusi Tepat Menjaga Kesehatan

       Indonesia mulai memasuki era digitalisasi. Dimana pada era digitalisasi saat ini, semuanya mudah didapat dengan cara cepat dan instan. Klik ikon ini, bisa sampai mana aja, klik ikon itu, belanjaan diantarin ke rumah, pokoknya tinggal klik sana, klik sini, semua informasi dan keinginan kita bisa didapat dalam waktu hitungan detik. Sudah tidak perlu lagi, sim salabim jadi apa, prok-prok (ala Pak Tarno), hanya cukup klik, maka semua keinginan dapat dikabulkan. Era digitalisasi yang semakin berkembang pesat, juga memaksa perusahaan-perusahaan raksasa mulai berlomba-lomba meluncurkan aplikasi mobile yang dapat di-download dengan cepat dan praktis lewat gadget masing-masing. Tujuannya agar mereka bisa sedekat mungkin dengan pelanggan, kemudian akibatnya mereka akan lebih muda mendapatkan banyak pelanggan dengan cara yang cepat.