Sabtu, 10 Oktober 2020

Kekuatan Konten Pendidikan di TikTok

Ada banyak konten yang saat ini banyak dikembangkan di TikTok, salah satunya adalah konten pendidikan. Pada SocialApp yang  sedang berkembang pesat ini, konten pendidikan yang informatif menjadi salah satu konten yang sangat populer.

Berkaca dari hal itu, TikTok pun menyuntikkan dana segar sebesar 15 juta dolar AS atau setara Rp220,6 miliar untuk membangun untaian konten yang mengkurasi video pendidikan dari seluruh penjuru Eropa.

Dengan suntikan dana segar yang tidak main-main jumlahnya itu, pemersa TikTok diharapkan dapat terus mencari konten pendidikan yang mudah dipahami dan dicerna, baik itu mulai dari pokok bahasan yang berat, peretasan kehidupan sehari-hari sampai dengan tutorial memasak.

Ada banyak asalan mengapa konten pendidikan yang dibuat di TikTok telah sangat membantu TikTok untuk jauh lebih berkembang dan membantu banyak pebisnis mengembangkan brand mereka sendiri:

1. Mudah Ditemukan

Biasanya, konten informati dalam bentuk apapun akan lebih sering muncul pada halaman yang akunnya berisi konten sama dan sudah disukai sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh algoritme yang dimiliki oleh TikTok dengan mengidentifikasi dan mengkategorikan sehingga akan lebih mudah dikirimkan ke audiens yang memiliki minat yang sama.

Tidak hanya itu, konten pendidikan juga merupakan salah satu jenis konten utama yang paling banyak dicari pengguna untuk tujuan tertentu. 


Biasanya beberapa pengguna memiliki pertanyaan dan ketertarikan pada suatu topik tertentu sehngga mereka mengetikkan kata dan hashtas untuk mencari konten yang diharapkan bisa memenuhi keinginan mereka.

Itulah mengapa konten pendidikan menjadi salah satu konten yang paling banyak dicari oleh pengguna TikTok. Selain itu, hal lain yang membuat konten pendidikan jadi lebih menarik adalah telah membantu banyak pengusaha untuk mempromosikan produk dan layanan mereka secara lebih aktif dan memiliki efek yang baik ke penjualan.

2. Jumlah Simpan dan Bagikan Tinggi


Pada saat pengguna TikTok tertarik pada suatu topik tertentu dan merasa terhibur dengan topik itu, mereka akan menyimpan serta membagikannya. Ini memang sudah menjadi kodrat manusia yang aktif di media sosial.

Ketika menemukan konten dengan informasi yang berguna, dan berpikir bahwa konten itu tidak hanya berguna untuk mereka saja tetapi juga orang banyak, mereka akan memilih untuk menyimpan dan membagikannya. Selain itu, pengguna juga akan meninggalkan lebih banyak Suka dan Komentar.

3. Visibilitas Tinggi

Cara yang baik dan mudah untuk memperoleh probabilitas yang lebih tinggi di Halaman untuk Anda adalah dengan memiliki waktu menonton dan tayangan berulang yang lebih tinggi. 

Itulah mengapa para pembuat konten cenderung akan mencoba membuat konten yang tidak mudah basi sehingga akan kembali bisa ditonton di kemudian hari.

Cara ini sebenarnya tidak hanya berlaku di konten pendidikan, tetapi juga konten lainnya yang dibuat di TikTok. Dengan cara itu, akun Anda akan memiliki peluang lebih besar untuk disimpan dan dibagikan oleh banyak pengguna lainnya sehingga akan mendapatkan penayangan lebih banyak.

Rabu, 17 April 2019

The Second Mother


Manchester, 21 November 2020

 Aku baru kembali ke apartemenku setelah seharian menghabiskan waktu di kampus dan bekerja paruh waktu. Belakangan ini, kegiatan kampusku memang semakin sibuk, karena projek magisterku sudah aku mulai dengan lebih serius. Hari ini, aku merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Tetapi ketika hendak merebahkan diri di kasur, ponselku tiba-tiba berbunyi. Terpaksa aku harus berdiri lagi untuk mengambil ponsel yang lupa aku keluarkan dari ranselku. Kuambil ponsel itu dan kulihat. Ya Tuhan, sampai lupa!

Kulihat ke arah kalender, dan ternyata, ya benar, itu hari ini. Bergegas aku berjalan menuju ke kursi meja tempatku bekerja. Lalu kulakukan kebiasaan-kebiasaan yang selalu kulakukan sekali di setiap bulan. Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat dan sekarang, ini adalah peringatan dua tahun pernikahanku dengan software yang kugunakan saat masa penyelesaian tugas akhir. Ah, tidak terduga memang!

Kalian pasti menganggap aku gila karena merayakan hal yang tidak penting semacam itu setiap tahun. Lagi pula, mana mungkin ada pernikahan antara manusia dan perangkat lunak, kalian pasti berpikir demikian, bukan? Haha, ada alasan tersendiri mengapa aku akhirnya memutuskan untuk merayakan hal semacam itu setiap tahun, bahkan bulan. Cerita yang sampai hari ini tidak bisa kulupakan. Mungkin kebanyakan orang akan melupakan hal-hal semacam itu, namun aku sama sekali tak pernah memiliki niat untuk menghapus memori itu dalam otakku.

Bagaimana tidak, tepat di tanggal ini, waktu itu, dulu, aku harus menghadapi satu cobaan yang membuatku tidak memiliki banyak pilihan selain tetap harus melakukannya. Sebab, jika aku memutuskan mundur, akan menimbulkan banyak kerugian, bukan hanya buatku, namun juga untuk orang lain. Tentu, aku sama sekali tidak menginginkannya! 

Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa aku tidak pernah ingin menghapus ingatan tentang hari itu. Rasanya memang selalu aneh tiap kali aku mengingatnya. Bernostalgia dengan masa itu selalu membuatku terus mengucap syukur bahwa ternyata benar, Tuhan sama sekali tak pernah meninggalkan kita apapun yang terjadi. Percayalah, selama kamu berdoa dan meminta pertolongan, Tuhan akan selalu memberikan pertolongan padamu bagaimana pun caranya. Ya itulah alasan yang membuatku melakukan perayaan ini setiap bulan hingga tahun.

"Happy wedding anniversary ya softwareku."
***
Bicara soal softwareku itu, pastinya juga harus membicarakan tentang sosok yang sudah mengenalkanku padanya. Kalau diingat-ingat, itu merupakan pertemuan tak terduga. Sebenarnya bukan pertemuan yang tak terduga juga. Kami sebelumnya sudah pernah bertemu dalam beberapa kelas. Namun hubungan kami biasa-biasa saja. Aku juga bingung mengapa sekarang bisa sampai seperti ini.

Jujur saja, dulu aku tak pernah berpikir bisa menorehkan kisah yang panjang seperti ini. Bahkan aku juga tak mengira akan melanggar ikrar yang kubuat untuk tidak menjalin hubungan yang lebih dekat dengat siapapun guruku. Tetapi apalah mampuku, aku tak mampu menahan takdir yang sudah tergaris, dan sebagai manusia atau hamba yang baik, tugasku hanyalah menjalaninya. Meskipun ada banyak ketakutan yang sempat terbesit, aku pada akhirnya tetap memutuskan untuk tetap menjalaninya. Walaupun sejatinya, ada beberapa hal yang selalu membuatku merasa bahwa guruku itu terlalu baik. Aku selalu mengatakan hal ini pada guruku itu, bahwa bertemu dengannya merupakan berkat terbesar dalam hidupku. Seandainya dulu aku tak bertemu dengannya lebih cepat, mungkin aku tidak akan berada di Manchester sekarang. Berkat pertemuan dengannya dalam waktu yang cepat itulah membuatku pada akhirnya berada di tempat ini, sekarang.

Dulu sekali, ketika hendak menemuinya, aku hanya bermodalkan keberanian tanpa pengetahuan yang cukup tentang dunia itu. Namun karena tak ingin terus-menerus mengalami kebuntuan yang membuatku terlalu lama stuck terus-menerus di sana, aku pun memutuskan untuk menemuinya. Aku sama sekali tak berekspetasi apapun dulu, yang aku pikirkan hanya satu, PENOLAKAN.

Tetapi rasanya kata itu terlalu kejam untuk seseorang seperti guruku itu, apalagi dengan judge yang seperti itu. Tetapi karena aku hanya bermodalkan percaya diri, maka itulah yang akhirnya menjadi satu-satunya hal yang kutakutkan. Tetapi, sekali lagi, itu hanya menjadi ketakutanku. Guruku itu, justru malah menerimaku dengan tangan terbuka. Sekali lagi jika harus jujur, aku waktu itu tidak memikirkan apapun selain kata iya jika aku harus menunggunya sampai mengabariku. Awalnya aku berpikir ini takkan sulit. Namun setelah kujalani sampai saat ini, ada satu pemahaman yang membuatku akhirnya menerima kenyataan.  Bahwa ketika kamu tidak memikirkan hal itu menjadi sulit, maka ia takkan berubah menjadi sulit. Sayangnya, dulu aku tak berpikir seperti itu, hingga akhirnya membuatku nyaris putus harapan.

Memang, tugas akhir selalu ada dramanya masing-masing. Selalu tak terduga, semua terjadi di luar kendali. Namun ingatlah, ketika kita mencoba berdamai dengan hal yang sulit itu, maka segalanya akan jauh lebih mudah. Jadi, mulailah berdamai dengan semua kesulitan yang kita miliki saat ini. Bahkan meskipun tak mudah, kita akan belajar satu hal, bahwa yang sulit pasti akan berubah menjadi mudah.

Dulu, aku masih belum terlalu mampu untuk berdamai dengan mereka, hingga akhirnya aku selalu kabur setiap kali gagal mencari jalan keluar. Aku selalu beralih menuju pelarianku dan bukan belajar untuk menghadapinya saja. Padahal, ketika sudah memutuskan untuk menghadapi, Sang Pencipta seolah akan menunjukkan jalan bagimu.

Ya, begitulah drama yang sempat terjadi di masa penyelesaian tugas akhirku. Namun aku terus survive sampai sekarang karena Tuhan telah mempertemukanku dengan sosok guru terbaik di dalam hidupku. Ada banyak guru terbaik yang pernah kutemukan di kehidupan ini. Namun untuk menjalin hubungan sekuat dan sebaik ini, tidak ada yang pernah bisa kulakukan. Komunikasiku dengan beberapa guru terbaik itu, hanya sekedarnya, tidak seintens dan sebaik ini. Itulah mengapa pada akhirnya, guruku itu kuanggap lebih dari sekedar guru tetapi sudah seperti ibuku sendiri.

Ada satu bagian dalam hubungan kami yang memang tidak kupahami. Ketika dunia maya kami lebih romantis daripada dunia nyata kami. Dalam kenyataan, kami hanya berbicara seperlunya saja, membicarakan hal-hal yang baik dan itu menarik. Tidak lebih dari itu. Aku juga terkadang tidak memahami alur hubungan ini dengan baik. Namun ya sudahlah, bagiku selama semuanya masih berjalan dengan baik, maka tak ada hal yang perlu dirisaukan.

Aku menyadari satu hal, bahwa sejatinya perbedaan di antara kami, rupa-rupanya suatu kesamaan yang tidak kami sadari. Sehingga secara tak langsung, perbedaan itulah yang membuat ikatan kami semakin erat. Ya, mungkin itu saja yang ingin kuceritakan. Aku tidak ingin kalian mengetahui lebih banyak lagi. Namun aku berharap kalian juga akan menemui guru terbaik di perjalanan akhir sebagai seorang mahasiswa.

Hari ini, setelah kembali menyandang predikat sebagai mahasiswa lagi, aku selalu bersyukur atas semua pertemuan itu dulu. Salah satu takdir Tuhan yang tak pernah ingin kulupakan. Aku selalu bilang kepada guruku, bahwa kami akan bertemu kembali di momen perayaan hari kelulusan seperti satu tahun yang lalu beberapa tahun ke depan. Sekarang, aku semakin tidak sabar untuk segera mewujudkannya. Semoga kita bisa kembali bertemu di momen kelulusan dengan segera ya guruku.
***
Hari ini sambil memandangi fotoku bersamanya di hari kelulusanku satu tahun yang lalu, aku ingin bertanya,

"Bu, apa kabar? Semoga ibu baik-baik saja."

Ya, aku berharap dimana pun ia berada, aku selalu berdoa yang terbaik untuk kehidupan dan kebahagiaannya, sama seperti ketika aku mendoakan orang tuaku. Semoga semesta kembali mempertemukan kita di momen yang membahagiakan ya, Bu. Semoga momen yang terjadi satu tahun yang lalu bisa kembali ulang tidak lama lagi. Sama seperti kata-kata yang pernah saya ungkapkan dulu, hari ini saya berharap bisa kembali mengulang kata-kata tersebut. Semoga.

"Terimakasih, Bu. Ini untukmu."

Itu tadi kisah singkat perjalanan tugas akhirku yang bisa kubagikan padamu semua. Menginspirasi atau tidak, semoga ada pesan yang bisa kamu ambil ya. Pesanku,

Tidak ada yang mengerikan di dunia ini, semua itu hanya ketakutanmu, ku dan kita semua.

Teruslah melangkah, semoga kamu berhasil!
TAMAT

Salam literasi,
Diis Yosri.

Minggu, 25 Desember 2016

Pandangan pertama

Saat pertama kali kita berjumpa, aku merasa getar menyusup ke sukma.
Membiarkanku overdosis dalam rupamu yang mempesona.
Engkau pandangan pertama yang buatku mengangkasa tanpa batas.
Lalu menenggelamkanku dalam rasa yang tiada arah.
Adakah yang Maha Kuasa menakdirkan kita kelak bersama?
Atau mungkin takdirnya berkata berbeda?

Kamis, 24 November 2016

Mereka dan Pengorbanannnya

"Awan muram, hati suram.
Tertatih bukan melatih.
Menggapai tak pernah sampai.
Siapa gerangan yang lelah?
Tuhan? Atau manusia-manusia yang tak berdaya?"~ Catatan Kegundahan, 23 November 2016.

Aku melihat banyak orang bekerja keras untuk mempertahankan hidupnya.

Aku juga melihat orang-orang yang bekerja keras itu, banyak yang tidak menghargai hidupnya.

Mereka bekerja begitu keras tetapi banyak yang tidak mengetahui apa arti kerja keras itu sesungguhnya.
Siang sampai malam, berjuang di jalanan. Kadang rela tak tidur seharian dan baru bisa merebahkan diri di siang pada hari berikutnya.

Aku tidak tahu apakah itu bagian dari sebuah ungkapan " menyedihkan" atau "menakjubkan".

Mereka-mereka yang rela mengorbankan hidupnya, aku juga tak tahu apakah mereka juga menghargai hidupnya sama seperti mereka berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya.

Aku menyaksikan beribu macam kisah dari hidup mereka. Aku terkesima dan juga sedih dalam waktu yang sama.

Mereka begitu gigih dalam berjuang, tetapi juga begitu rapuh dalam penghargaan untuk hidupnya. Hanya sekedar untuk memperoleh uang dan bisa makan, segalanya dilakukan. Tetapi ketika apa yang mereka inginkan tercapai, tak ada sedikit penghargaan yang diberikan. Malah yang terjadi justru sebaliknya. Memikirkan lagi bagaimana caranya hidup di hari berikutnya. Tidakkah itu merupakan hal yang " menakjubkan" sekaligus "menyedihkan" ?

Lalu, dimanakah letak arti sebuah "pengorbanan" yang sesungguhnya? Segala sesuatu yang telah rela dikorbankan hanya demi sebuah kehidupan yang katanya begitu "berharga" ?

Aku melihat, mengamati hingga menjadi penonton setia. Banyak dari mereka yang lebih memilih melakukan segalanya untuk bertahan hidup ketimbang sedikit dari mereka yang lebih memilih hidup untuk keduanya.

Dimanakah letak pengorbanan sejati dalam hidup ini?

Apakah hanya sekedar bertahan tanpa mengapresiasi adalah hal yang benar? Atau mungkin bertahan sekaligus mengapresiasi adalah dua buah hal yang tidak akan pernah beririsan?

Berkorban artinya belajar merelakan sesuatu. Merelakan sesuatu itu berarti harus diterima dengan ikhlas. Keikhlasan akan membawa hidup pada keberkahan yang luar biasa. Keberkahan hidup yang luar biasa membuat manusia menjadi lebih bersyukur. Bersyukur itu artinya belajar menghargai apa yang telah berhasil direngkuh. Menghargai merupakan langkah awal untuk mengapresiasi. Melakukan apresiasi itu artinya melakukan dua hal yang tak mungkin beririsan, yaitu bertahan dan mengapresiasi hidup sendiri.

Semua itu tampak begitu sederhana. Namun aku tahu apakah mereka pernah menyadari itu?

Jika melakukan pengorbanan tak bisa membawa hidup ini merasakan keberkahan yang luar biasa, itu artinya kesadaran belum sepenuhnya miliki diri ini, diri kita sendiri.

"Cara tepat untuk hidup adalah melakukan apa yang bisa dilakukan dan menghargai apa yang telah dilakukan."

Salam literasi,

Diis Yosri.

Sabtu, 19 November 2016

Away from Me

Part 3...

Di sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan hal tersebut. Semakin kupikirkan, semakin aku merasa frustasi. Aku begitu kesal pada Tuhan yang telah mendesign takdir hidupku seperti ini. Wanita yang seharusnya sudah memilih pergi itu akan jauh lebih baik jika ia tak kembali. Namun mengapa yang terjadi malah justru sebaliknya? Ditambah lagi pasal soal gegar otak, rasanya membuatku semakin muak.

Hingga mobilku terpakir rapi di pelataran cafe, aku masih saja memikirkan hal itu. Rasanya begitu kesal. Aku mencoba melampiaskan amarahku dengan memukul-mukul setir mobil sambil berteriak keras, juga tak kunjung reda. Lantas harus dengan cara apalagi aku melenyapkan amarahku ini?

"Tuhaannn!!!!" teriakku dalam hati

Ponselku tiba-tiba berdering. Belum juga melihat siapa yang menelponku, aku sudah mengutuk orang itu lebih dulu karena si penelpon ini sangat berhasil membuat amarahku semakin memuncak. Setelah kuambil ponselku dari saku dan melihat siapa yang menghubungiku, rasanya ingin kubanting saja ponselku ini. Kuhela napas panjang lebih dulu, baru mengangkat teleponnya.

"Why?" jawabku dengan nada ketus

"Shiren mengamuk tidak jelas Wisnu sesaat setelah ia sadarkan diri. Namamu terus disebut-sebut olehnya. Dokter sempat kewalahan memberikan obat penenang tadi. Tetapi sekarang sudah berhasil dan Shiren sekarang tidak sadarkan diri namum akan sadar dalam waktu beberapa jam lagi. Dokter mengatakan bahwa ia ingin bertemu denganmu dan..."

"Aku baru saja sampai cafe dan ingin menenangkan pikiranku. Jadi kalau dokter ingin bertemu, aku akan menemuinya besok hari. Jika kamu ingin melanjutkan lagi untuk membahas soal ini, aku akan putus panggilan ini secara sepihak!" aku langsung menyela dengan nada kesal

"Kau kembalilah ke rumah sakit dalam waktu sebelum dua jam. Jika kau tak kembali....

Riko terdengar menghela napas, "maka aku tak dapat memaksa."

Riko langsung memutus panggilannya secara sepihak. Aku memilih untuk tidak ambil pusing. Kulangkahkan kakiku keluar dari mobil menuju cafe. Aku ingin menenangkan diri sejenak dengan segelas cokelat panas dan cookies favoritku.

"Hey, kau datang!"

"Apa kabar Rom?" sapaku menjabat tangannya

"Baik aku. Kau, ada apa datang ke sini?"

"Biasa Rom, secangkir cokelat panas dan cookies favorit."

"Astaga, kau sudah tua masih minum cokelat sama makan cookies juga?"

Aku hanya menggelengkan kepala sambil berkata "Aku di tempat biasa, oke?" kataku kemudian pergi

Aku mengenal Romi sejak lima tahun yang lalu. Kami sempat terlibat dalam beberapa situasi dan akhirnya menjadi teman sampai saat ini. Romi memiliki karakter yang sama dengan Riko. Hanya saja, mereka sangat berbeda soal prinsip. Riko lebih kaku sedangkan Romi memilih untuk lebih mengalir. Boleh dibilang selama dua belas tahun belakangan ini, mereka berdualah sumber kebahagiaanku. Lalu cafe ini? Aku selalu senang kemari setiap aku merasa sangat pusing dengan beberapa hal. Berkali-kali aku datang ke sini dengan meminum segelas cokelat panas dan cookies, otakku dapat kembali berpikir dengan baik. Untuk itu aku memutuskan datang ke sini setelah mengalami kejadian seperti itu. Aku berharap segelas cokelas dan sepiring cookies itu dapat membantuku kembali dapat berpikir dengan baik.

"Satu gelas cokelat panas dan sepiring cookies. Silahkan dinikmati, Tuan."

"Terima kasih." ucapku

Cokelat panas itu langsung kuteguk dengan cepat. Meskipun masih dalam keadaan panas, aku mampu menghabiskan hampir setengah dari isi cokelat dalam gelas itu.

"Wahhh!! Kemampuan minummu sangat luar biasa!"

"Duduklah di sini, tak usah mengamatiku dari kejauhan!" kataku dengan nada ketus

Romi pun menghampiriku lalu duduk ke kursi yang berhadapan denganku.

"Well mister mellow, what can I do for you?"

Ketika Romi sudah mengeluarkan kata "mister mellow" itu artinya ia sedang menyindirku saat ini. Aku paling tidak suka ketika ia mengeluarkan kata "mister mellow" itu.

"Apakah kau tidak punya kata yang lebik baik dari itu?" cibirku

"Mungkin akan kupikirkan lagi nanti." jawabnya sambil tertawa

"Ah sudahlah, lupakan." jawabku ketus

"Well, apa yang bisa kulakukan untukmu hari ini mister mellow?"

"Aku sangat berharap hari ini tak pernah terjadi." ujarku dengan raut wajah sebal

"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanyanya penasaran

"Katakan padaku, bagaimana mungkin aku mencintai lagi seorang wanita yang sudah sangat menyakitiku?"

"Wanita? Ayo langsung saja ke topik pembicaraan mister mellow. Aku sedang tak ingin berpikir keras."

"Shiren, dia datang lagi." tukasku

Romi langsung terdiam dengan ekspresi wajahnya yang terkejut.

"Tidak hanya datang, hari ini dia kecelakaan dan mengalami gegar otak."

"Apa?! Gegar otak? Kau sedang tidak bercandakan mister mellow?" Romi terdengar meragukan ucapanku

"Apa raut wajahku yang sekarang ini menunjukkan kebohongan?" tanyaku memasang tampang wajah serius

Dia justru menertawakanku. Aku merasa sangat tidak nyaman melihat tawanya itu. Rasanya ingin kuhajar wajahnya itu babak belur.

"Apa aku harus menghajarmu?!"

"Oke, oke, oke mister mellow. Aku minta maaf. Kita kembali lagi ke topik pembicaraan kita. Oke?" tanyanya sambil tersenyum

Kuambil gelas berisi cokelat itu lalu kuteguk sampai habis isinya. Suasana sempat hening, sampai akhirnya aku memilih untuk bicara lebih dulu.

"Mengapa Tuhan seperti ini, Romi?" ujarku tanpa memandangnya

"Ada apa dengan Tuhan? Mengapa kau harus mengaitkan hal ini pada-Nya?" Romi tampak mengecam pertanyaanku

"Aku sudah tidak mengharapkan wanita itu datang kembali ke hidupku. Tetapi Tuhan malah melakukan hal sebaliknya. Kehidupan macam apa ini!" ucapku sambil menghentak meja

"Apa arti sebenarnya dari harapan Wisnu? Apakah harapan akan tetap menjadi harapan ketika hal itu sudah berhasil diwujudkan? Apakah orang-orang masih akan tetap menyebutnya harapan?" Romi menatapku serius

Aku tak menjawab apapun, hanya terus memandangnya.

"Tidak menginginkannya masuk lagi ke kehidupanmu, itu artinya kau sedang berharap. Kau tidak seharusnya menyalahkan siapapun dalam peristiwa ini." ujarnya dengan tegas

"Mengapa? Mengapa aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa?"

"Jika orang lain memilih menyakiti kita dengan alasan untuk merengkuh kebahagiaan yang utuh dalam hidupnya, itu artinya ia tak punya cara selain melakukan hal itu. Lalu bagaimana dengan kita yang sudah terlanjur patah, hati dan perasaannya? Hidup ini telah mengajarkan kita sesuatu, bahwa yang terbaik yang dapat kita lakukan adalah tidak hidup menjadi seperti orang lain."

"Kita tak seharusnya hidup dengan cara yang sama seperti mereka. Oleh karena itu, hanya karena masa lalumu memiliki kenangan pahit dengannya bukan berarti di momen saat ini, kamu melakukan cara yang sama untuk membalas masa lalu. Kau sudah memiliki hidup yang baru sampai saat ini. Hidupmu yang baru itu jangan pernah kau hancurkan hanya karena kau ingin membalas masa lalu. Jika saat ini kamu harus mengorbankan segalanya, itu karena kamu menghargai kehidupanmu yang baru saat ini. Kamu sedang BERUSAHA menghormati keberhasilanmu saat ini."

"Apa aku bisa melakukan itu?" tanyaku penuh ragu

"Tidak ada siapapun yang bisa menjamin hal itu, kecuali dirimu sendiri." ujarnya sambil menunjuk diriku

Aku terdiam dan coba mencerna semua perkataan Romi barusan.

"Hal terbaik yang  bisa kau lakukan saat ini adalah melakukan apapun yang bisa kamu lakukan."

Aku hening kembali.

To be continue...

Selasa, 18 Oktober 2016

Tak Selamanya Kita benar-benar BENAR.

Kata orang, hidup punya aturannya masing-masing. Orang lain dengan kehidupannya dan kita dengan kehidupan kita. Tak masalah jika kehidupan itu berjalan-jalan masing-masing. Jika tak masalah, mengapa hidup ini berjalan sebaliknya?

Realita yang ada justru menampilkan fakta melawan kata. Tingkat kenyataan yang ada, siklus  kehidupan yang terjadi dari duku sampai sekarang masih tetap sama. Orang lain membutuhkan kita, kita membutuhkan orang itu. Jadi jika disimpulkan, hidup orang lain dengan hidup kita selalu terjadi yang namanya suatu keterikatan. Layaknya suatu materi yang disusun atas atom-atom yang saling berinteraksi sampai kepada molekul yang takkan pernah berhenti berikatan di dalam atom, begitulah analogi kehidupan ini. Hidup kita dengan hidup orang lain itu, pasti selalu saling butuh. 

Bagaimana bisa?

Sederhana saja, seandainya sebuah keterkaitan itu tak pernah ada, maka runtuhlah teori yang menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Lalu pertanyaannya, apakah teori itu telah runtuh hingga saat ini? Nyatanya, teori itu masih tetap eksis. Maka dapat diambil sebuah kesimpulan, bahwa hidupmu dan hidupnya akan selalu menjadi hidup kita. 

Apabila suatu interaksi antaratom maupun antarmolekul membuat terciptanya berbagai macam ikatan atau reaksi dengan sifatnya masing-masing, demikian pula manusia itu sendiri. Hasil dari berbagai pola interaksi hidup manusia bahkan dikaji dalam ilmu yang kita namakan Sosiologi

Di dalam keterkaitan hidup antara yang satu dengan yang lainnya menimbulkan yang namanya kontroversi dan non kontroversi. Timbulnya kontroversi dan antinya akibat dari adanya ragam perbedaan pada cara antarinteraksi yang memandang cara hidup antarmanusia. Ragam perbedaan itu menyebabkan banyak terjadi spekulasi antara yang benar dan yang salah. 

Akibat dari A mengatakan suatu hal yang demikian, si B lalu merasa tersinggung. Akibat dari si C berbicara demikian, si D mengatakan bahwa si C hanya tahu cari ribut saja. Hasil dari interaksi yang seperti itu kemudian menimbulkan suatu persepektif bahwa "Anda seharusnya menghargai saya dengan kebenaran yang ada." Lucunya, setelah diberi pemaparan panjang lebar dan ternyata terbukti bahwa cara pandang tersebut tidak benar-benar BENAR kemudian dia berkata "Mungkin saya yang salah dan Anda yang benar." ,Anehnya lagi, kata-kata yang seharusnya mendefinisikan suatu penyesalan namun nyata Tidak. Sudah ada unsur marah, kesal dan lain sebagainya di sana. 

"Oleh sebab itu, bahwa tidak ada yang benar-benar benar atas sesuatu adalah sesuatu yang sepatutnya diterima. "

salam literasi,
Diis Yosri

Jumat, 14 Oktober 2016

My Precious Moment is Healthiness

Kehidupan yang kita miliki saat ini, tidak akan ada siapa pun yang tahu akan berjalan seperti apa dan bagaimana. Semua kenyataan yang akan terjadi di dalam hidup ini, hidup kita atau pun hidup orang lain adalah tabir yang hanya Dia-lah yang tahu. Sebagai manusia yang mengaku sebagai hamba-Nya yang hanya bisa dan dapat kita lakukan adalah menjalani hidup dengan sebaik mungkin. Soal bagaimana akhirnya, mungkin kita bisa memprediksi tetapi tak pernah tahu kebenaran dari prediksi itu. Ada yang pernah mengatakan seperti ini pada saya :

Minggu, 09 Oktober 2016

Dengan #BatikIndonesia, Ayo Kita Indonesiakan Dunia!!

Sebelum saya berbicara panjang lebar tentang batik, lebih dahulu saya ingin mengucapakan :
"Selamat Hari Batik Nasional tanggal 02 Oktober 2016"
 Dengan menjunjung semangat tinggi nasionalisme, mari kita terus lestarikan batik Indonesia!! Jayalah batik Indonesia!!

Rabu, 05 Oktober 2016

Biarkan Tetap Terjaga

Ketika pintu itu kubuka, kulihat lambaian tangan padaku. Ia tersenyum bahagia, sangat bahagia. Hidupnya tampak damai. Aku iri melihatnya. Ia punya ingin yang kutahu itu sama denganku. Namun tak kulihat ia sibuk, sesibuk aku. Aku bingung juga terkesima. Hidupnya luar biasa. Tuhan menciptakannya begitu tertata. Emosinya, pengharapannya, perilakunya begitu mempesona. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dan tiada. Namun aku ingin belajar darinya. Belajar menemukan kedamaian yang abadi. ~ Catatan kegundahan
 
Kalian punya mimpi? Punya harapan untuk jadi seorang yang begini atau mungkin seorang yang begitu? Kalian pasti memilikinya dalam sebuah daftar yang disebut "Impian".

Tetapi ada satu pertanyaan yang harus kalian pikirkan :
" Mengapa manusia harus punya impian padahal manusia tak pernah merasa puas?"

Ada seorang teman yang pernah berkata begini :
"Impianku sudah hilang semenjak aku merengkuhnya."

Pasti kalian bertanya-tanya, "Apa yang direngkuhnya bukan?"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada sebuah pertanyaan baru untuk kalian:
"Apa akhir dari impian?"

Salah atau tidak, menurut saya akhir dari sebuah impian itu adalah profesi.
"Tapikan itu profesi yang hati saya inginkan?"

Dulunya saya berpikir begitu. Impian akan mengantarkan kita menuju profesi yang kita inginkan, pekerjaan yang kita cintai, kita harapkan. Namun sayang, hal itu tidak berakhir sampai di situ saja. 

Impian itu akan terus berjalan sampai kita benar-benar lelah untuk terus merengkuhnya.

Percaya atau tidak, kita pasti akan merasakan benar-benar lelah dalam mencapai sebuah impian.

Ada suatu fase, dimana kepompong yang diharapkan dapat mengeluarkan seekor kupu-kupu cantik, namun nyatanya tidak demikian, kepompong itu justru mengeluarkan kupu-kupu yang tak pernah diharapkan. Demikian pula dengan impian.

Apa yang kita inginkan bukan berarti harus terwujud semuanya. Ada orang yang mendapatkannya satu per satu dengan cara yang mudah, tetapi tak sedikit orang yang harus bersusah payah untuk merengkuhnya. Ya, demikianlah impian.

Tetapi bukan berarti kalian harus berhenti. Meskipun pada akhirnya akan merasa benar-benar lelah, setidaknya biarkan ia tetap terjaga.

Dengan begitu, rasa lelah itu akan ada penawarnya. Sesuatu yang suram perlahan-lahan mulai terang. Harapan yang sudah hilang, muncul lagi bersama dengan keputusasaan yang sirna, dan kalian, kalian akan berproses lagi dan lagi. Semua akan terus  dan selalu begitu. Takkan pernah berubah dari seperti itu.

Oleh karena itu, biarkan impian itu mengabadi dalam sukma Anda, mendarah daging di tubuh Anda, hingga akhirnya Anda percaya bahwa Anda tidak benar-benar berada di titik itu-itu saja.

Salam literasi,

Diis Yosri

Rabu, 28 September 2016

2100

Surat Pertama dari abad 21 :
 
Perkenalkan, aku Meesha. Cucu dari cucu-cucu-cucu-cucu dan cucu moyang kalian terdahulu. Aku adalah manusia abad 21. Melalui surat ini, aku akan mulai bercerita tentang abad tempat aku menapakkkan kaki saat ini. Aku sengaja mengirimkan surat ini pada kalian manusia abad 20. Sebab aku ingin menceritakan segala kegelisahan dan kebosananku di abad 21 ini. Ya, mungkin hanya itu.
Ini surat pertama sekaligus surat-surat pembuka berikutnya yang akan kalian dapatkan di hari-hari berikutnya. Aku berharap, suatu saat nanti kalian dapat mengirimkan balasan padaku dan bisa menceritakan apa yang ada di abad 20, karena untuk kembali ke abad 20, dibutuhkan dana yang sangat besar. Jadi, aku tak mungkin kembali ke sana. Namun sudahlah, aku tak memaksa kalian untuk membalas suratku. Tetapi semoga suratku ini dapat menjadi cerita yang menyenangkan untuk kalian konsumsi.
Di suratku yang pertama ini aku belum akan menceritakan secara rinci tentang abad 21. Aku tahu kalian pasti kecewa membacanya. Aku pun begitu. Lalu nau bagaimana lagi? Jika aku ceritakan semuanya hari ini, kalian takkan lagi penasaran dengan surat-suratku berikutnya. Aku tak mau itu terjadi, karena hanya surat inilah obat penawar bosan yang kuderita saat ini. Sudahlah, aku tak ingin bicara panjang lebar mengenai kebosananku ini, karena kalian pasti sangat tidak tertarik untuk mendengarkannya. Baiklah, kalau begitu langsung saja, kukenalkan abad 21 pada kalian.
Halo manusia abad 20, Selamat Datang di abad 21 :)
Abad dimana kalian akan menemukan teknologi berkembang begitu pesat. Kalian tahu? Abad 21 merupakan abad pertama yang memiliki kecanggihan teknologi di luar dugaan manusia. Apa saja dapat dilakukan dengan teknologi. Semua kegiatan manusia abad 21 pun serba teknologi. Mau makan, minum, tidur, kerja dan lain-lain pasti selalu bersinggungan dengan teknologi. Hebat bukan??
Jujur saja, ketika pertama kali aku terlahir sebagai manusia super moderen, aku merasa sangat penasaran. Aku ingin coba teknologi ini, coba teknologi itu, semua teknologi yang tersedia ingin aku coba semua.
Awalnya aku berpikir, kecanggihan teknologi ini akan membuat manusia hidup dengan aman dan nyaman. Namun setelah aku hidup sekian lama sebagai manusia super moderen, aku berpikir sebaliknya.
Ada suatu kejenuhan yang mengalir dalam darahku dan distimulus dengan baik oleh otakku. Tanpa perlu aku bilang "bosan", otakku sudah mengatakan hal itu duluan.
Teknologi yang terus diperbaharui membuatku terus bertanya tentang hakikat keberadaan manusia? Apalagi yang dapat manusia lakukan setelah semua pekerjaannya teknologi yang lakukan? Dimana lagi arti seorang "manusia" di abad ini?, entah mengapa setiap ada teknologi baru yang dilahirkan, aku merasa semakin tidak senang.
Abad 21 yang dibayangkan oleh banyak orang, tidak terwujud sedemikian rupa. Meskipun benar bahwa teknologi sudah mempermudah segalanya. Tetapi di sisi kehidupan lainnya, segalanya jauh dari kata "indah".
Mengapa aku berkata demikian teman? Baiklah, akan kuceritakan satu per satu.
Aku akan mulai bercerita tentang manusia abad 21 lebih dulu. Kalian pasti berpikir bahwa manusia abad 21 itu cerdas-cerdas dan keren sekali bukan?
Teman, yang kalian pikirkan nyaris benar tetapi juga mendekati salah. Orang-orang abad 21 memang cerdas. Segala teknologi bisa diciptakan dalam waktu cepat. Kalian tinggal bilang mau teknologi apa, maka dalam waktu sekejap, tadaaaaaa.....teknologi pun siap digunakan.
Kalian pasti pernah melihat doraemon bukan?
Ya, kira-kira teknologi abad 21 hampir sama seperti itu. Seperti doraemon yang bisa menyediakan apapun dalam sekejap, abad 21 pun begitu. Manusia abad 21, pemikirannya di luar dugaan. Apa yang mustahil di zaman kalian, maka di abad 21 itu adalah kenyataan.
Tidak hanya mahir dalam hal teknologi saja, manusia abad 21 juga begitu cerdas berdiplomasi. Politik di abad 21 lebih kejam daripada abad 20. Orang-orang dengan kepentingan A dan memiliki segenap kekuasaan, maka akan lebih mudah menghancurkan orang-orang dengan kepentingan B. Saling singkir-menyingkirkan sudah menjadi budaya yang amat biasa bagi manusia abad 21.
Tidak ada lagi kata hormat pada yang lebih tua. Hormat hanya akan diberikan pada seseorang yang memiliki prestasi yang melimpah dan imajinasi luar biasa. Tak peduli apakah manusia itu lebih muda, jika dia memiliki segudang prestasi maka kehormatan akan selalu mengiringi hidupnya, teman.
Manusia abad 21 sangat menekankan prestasi dan imajinasi. Seseorang yang berimajinasi tinggi, seluruh kehidupannya akan berakhir di laboratorium. Manusia itu takkan pernah keluar dari sana hingga kematian datang padanya. Sedangkan orang-orang yang berprestasi, hidupnya akan berakhir di pemerintahan yang menyebalkan. Sekedar informasi teman, pemerintahan abad 21 hanya akan menerima orang-orang dengan segudang prestasi.
Pasti kalian sedang bertanya-tanya, bagaimana bisa mengetahui apakah manusia tersebut memiliki tingkat imajinasi tinggi dan prestasi yang mumpuni?
Tunggu saja surat dariku berikutnya, teman.
Tertanda manusia abad 21
Meesha.

Minggu, 26 Juni 2016

Away from Me

Part. 2

"Tolong, dengarkan aku!" kata Shiren memohon

Aku terus menatapnya tajam. Tak sedikit pun mataku berpaling darinya. 

"Alasan mengapa aku pergi, aku tahu engkau pasti takkan mampu menerimanya."

"Seandainya aku dapat memilih.."

"Kamu sudah memilih." jawabku

"Dan pilihanmu itu sangat menyakiti hatiku. Hatiku sangat hancur!!" nada bicaraku mulai naik

Aku tak tahu setan apa yang merasuki diriku. Emosiku terlanjur meluap dan aku tak mampu mengendalikannya. Entah mengapa aku bersikap seperti anak-anak saat ini. Tak peduli akan perasaan orang lain dan yang paling penting adalah perasaanku sendiri, perasaan yang membebani diriku begitu melihat orang yang sudah kuanggap mati, hadir lagi di hidupku. Dia harus tahu, harus tahu bagaimana hatiku menahan semua kepedihan itu, tekanan bertubi-tubi yang selalu kutahan. Ya, dia harus tahu!!

"Dengarkan aku baik-baik!!" kupegang kedua lengannya begitu kuat, mataku menatapnya tajam

"Setelah hari dimana kamu pergi meninggalkanku, maka setelah hari itu juga hidupku hancur karenamu. Lalu kemudian kamu muncul lagi hari ini untuk menjelaskan semuanya. Apa menurutmu itu akan sangat berguna? Apa hatiku yang sudah terlanjur sakit ini akan coba memahaminya? Apa itu yang kau pikirkan? Apa itu yang membuatmu muncul lagi di hadapanku saat ini? Apa itu? Hah?!" aku menyentaknya dengan suara yang kuat, napasku terengah-engah rasanya. 

Kelepaskan genggamanku dari kedua lengannya. Aku mencoba mengatur napas pelan-pelan dan menstabilkan emosiku yang tadi meluap-luap. Kepejamkan mataku perlahan agar bisa kembali tenang. Suasana mendadak begitu hening dalam beberapa saat.

"Kamu." ucapku sambil membuka mata

"Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa mengobati hatiku. Sampai kapan pun Shiren, sekali pun kamu coba sampai berkali-kali, hatiku ini tetap akan merasakan sakit dan kamu tidak akan pernah mengerti!" ucapku dengan nada lirih

"Satu hal yang membuatku sangat menyesal, mengapa takdir pernah membuatku begitu tergila-gila padamu? Bagaimana bisa takdir membuat diriku ini mencintai wanita sepertimu, Shiren? Bagaimana bisa?" 

Air mataku jatuh begitu saja. Tak tahu sebabnya mengapa aku tiba-tiba ingin menangis begini. Mengapa aku begitu kekanak-kanakkan saat ini? 

"Wisnu, aku.." tangannya mencoba memegang wajahku

"Stop, stop it." ucapku pelan

"Jangan pernah jelaskan alasanmu itu, jangan katakan apapun lagi." kataku memberi penegasan

"Tapi.." katanya dengan nada sedih

"Kita takkan pernah mungkin lagi bersama, tidak akan pernah." ucapku kembali menatapnya

Aku melihatnya juga meneteskan air mata. Namun entah mengapa aku sama sekali tak merasa iba. 

"Karena rasaku ini..." kepejamkan mataku sambil menelan ludah

"Karena rasaku ini sudah mati bersama cintaku yang juga memilih pergi." ucapku lalu meninggalkannya

Aku tak tahu mengapa rasa sesal tiba-tiba bergelayutan di hatiku setelah aku mengatakan hal itu. Ini sangat aneh hingga otakku gagal mencerna semua yang telah terjadi. Aku terus bertanya mengapa Tuhan mengirimkannya untuk kembali lagi di hidupku? Apa maksud dari semua ini? Lalu mengapa hatiku yang sudah sangat sakit ini malah justru membuat jantungku berdebar kencang lagi? Dan mengapa ini semua terasa membingungkan? Adakah seseorang yang mampu menjawabnya? Aku tak ingin seperti ini, Tuhan. Aku tak ingin wanita membuatku menjadi begitu lemah. 

Aku memutuskan untuk pergi ke tempat biasa yang kujadikan untuk menenangkan diri. Sepanjang perjalanan, pikiranku entah melayang kemana-mana. Otakku masih terbayang-bayang kejadian yang baru saja terjadi. Aku tidak bisa fokus. Aku memilih berhenti sejenak dipinggir jalan yang ada dekat jembatan. Aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghirup udara sejenak. Namun, belum sempat kakiku sampai di dekat jembatan, ponselku tiba-tiba berdering. 
Aku langsung mengeluarkannya dari saku. 

"Apalagi sih Rik?!" jawabku dengan nada sebal

"Shiren kecelakaan, aku di rumah sakit sekarang." kata Riko

Aku hening seketika. Kedua kakiku rasanya tak kuat lagi untuk menopangku. Aku hampir saja terjatuh. Begitu pula ponsel yang kupegang hampir saja terjatuh. Rasanya seperti waktu mendadak lenyap dan semua hal yang terjadi itu hanya sebuah ilusi. 

"Wisnu!!" Riko berteriak

"Maaf Rik, maaf." ucapku gugup

"Kau datanglah ke sini." suruh Riko

"Kau beritahu saja alamat lengkap rumah sakitnya, aku segera ke sana sekarang."

Aku langsung mengakhiri panggilannya dan bergegas masuk ke mobil. Tak lama setelah aku menyalakan mobilku, sms pemberitahuan datang dari Riko. Aku langsung membukanya dan dengan cepat memasukkan perseneling lalu menginjak gas mobil untuk segera muncul ke rumah sakit tersebut.

Aku sudah menyetir tanpa akal sehat. Aku tak lagi mempedulikan keselamatanku. Satu-satunya hal yang ada di pikiranku adalah bagaimana caranya aku bisa secepat mungkin untuk sampai ke rumah sakit itu. Alhasil, dalam waktu sekitar setengah jam, liukan mobilku yang acak-acakkan berhasil membuatku sampai di rumah sakit itu. 

Dengan cepat aku memarkirkan mobilku dan segera berlari menuju tempat dimana Riko berada saat ini. Aku mengambil ponselku untuk menghubungi Riko. 

"Halo, kau dimana Rik?" tanyaku sambil berlari

"Kau dimana sekarang?" kata Riko

"Aku di lobi." jawabku dengan napas terengah-engah

"Kau lurus saja sampai menemukan dua lorong, di situ kau ambil arah kanan."

"Oke." jawabku lalu mengakhiri panggilan

Aku berlari lagi sesuai dengan instruksi Riko, hingga akhirnya aku berhasil menemukannya. 

"Bagaimana Rik?" tanyaku langsung

"Masih menunggu, nah itu dokternya. Ayo!"

Kami melangkah menghampiri dokter. 

"Bagaimana dokter?"

"Anda berdua keluarganya?"

"Ya dokter, kami keluarganya." 

"Ada sebuah cedera serius yang dialami oleh pasien di bagian kepalanya. Analisis kami saat ini adalah cedera itu menyebabkan terjadinya gegar otak dan gegar otak ini masuk dalam tipe gegar otak yang menghapus seluruh memori masa lalunya sampai masa sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun untuk mengetahui secara lebih detailnya, kita harus menunggu pasien sadar lebih dulu."

Aku terdiam tak mampu mengatakan apapun lagi. 

"Baik dok, terima kasih." ucap Riko

"Jika ada hal yang ingin ditanyakan lebih lanjut, silahkan datang ke ruangan saya. Saya permisi dulu!"

"Iya dok, silahkan!" jawab Riko

Aku hanya diam dan memilih duduk di kursi. Saat ini aku tak tahu harus bagaimana. Riko menghampiriku lalu duduk di sampingku. 

"Ini pasti akan menjadi hal yang sangat berat untukmu."

"Aku terlalu bingung untuk menjawabnya."

"Kita tak punya banyak pilihan, Wisnu. Kita tak punya itu."

"Lalu bagaimana aku harus menjawab takdir Tuhan ini? Bagaimana?"

"Bagaimana? Aku yakin kamu pasti tahu." Riko beranjak pergi meninggalkanku

"Tetapi aku tak yakin kalau aku tahu." ujarku juga memilih pergi dari tempat itu


To be continue...


Sabtu, 25 Juni 2016

Aplikasi Garda Mobile Medcare : Solusi Tepat Menjaga Kesehatan

       Indonesia mulai memasuki era digitalisasi. Dimana pada era digitalisasi saat ini, semuanya mudah didapat dengan cara cepat dan instan. Klik ikon ini, bisa sampai mana aja, klik ikon itu, belanjaan diantarin ke rumah, pokoknya tinggal klik sana, klik sini, semua informasi dan keinginan kita bisa didapat dalam waktu hitungan detik. Sudah tidak perlu lagi, sim salabim jadi apa, prok-prok (ala Pak Tarno), hanya cukup klik, maka semua keinginan dapat dikabulkan. Era digitalisasi yang semakin berkembang pesat, juga memaksa perusahaan-perusahaan raksasa mulai berlomba-lomba meluncurkan aplikasi mobile yang dapat di-download dengan cepat dan praktis lewat gadget masing-masing. Tujuannya agar mereka bisa sedekat mungkin dengan pelanggan, kemudian akibatnya mereka akan lebih muda mendapatkan banyak pelanggan dengan cara yang cepat.

Kamis, 23 Juni 2016

Away from Me


Part. 1

Sepuluh tahun sudah kujalani hidup dengan penuh kehampaan. Tidak ada kebahagiaan, mati rasa dan segalanya terasa begitu hambar. Aku berusaha melupakannya, menghapus bayangnya dari hidup dan benakku, namun berkali-kali aku mencoba, aku pasti gagal. Mereka benar, aku memang terlalu mencintainya, amat sangat mencintainya. Sekali pun sudah disakiti ribuan kali, hati ini selalu dan akan tetap memujanya. Aku ingin terus mencintanya, tetapi sadarku kini semuanya telah berubah. Dia pergi begitu kejamnya meninggalkanku tanpa alasan, tanpa penjelasan, hingga akhirnya aku tahu bahwa aku harus memaksakan diri untuk melupakan segala tentangnya, tentang kami, tentang cerita antara aku dan dirinya bertahun-tahun lamanya. 

Dua tahun belakangan ini, aku mulai mengalami yang namanya mati rasa dengan seorang yang dinamakan wanita. Sekali pun dia rela berkorban untukku, tidak peduli aku, tidak peduli. Kekecewaanku pada masa lalu yang tak bisa kuobati membuat penyakit mata rasa itu akhirnya terjangkit olehku. Aku tak memiliki hasrat untuk mengobatinya, aku tak ingin lagi kecewa untuk kedua kalinya. Cukup sekali dan itu sudah membuatku terasa sangat hancur, hancur hingga puing-puing kecil yang tak bermakna. Aku lelah sakit hati.

Semenjak kejadian itu, aku memutuskan untuk mengabadikan seluruh hidupku hanya untuk bekerja. Uang bukan motivasi terbesarku saat membuat keputusan itu. Aku hanya merasa lebih bahagia saat bertatap mesra dengan layar-layar monitor itu selama berjam-jam, jariku tak jemu menari-menari di atas keyboard-keyboard yang sebenarnya sangat menyebalkan itu, tubuhku rasanya begitu sehat setiap kali aku bekerja, belum lagi banyak tantangan besar yang harus kulewati hanya untuk mendapatkan uang berpuluh-puluh miliyar itu. Terkadang aku menertawakan diriku sendiri, menertawakan diriku yang rela mati-matian mengorbankan segalanya hanya demi sesuatu yang bahkan tak mampu menghilangkan kekecewaanku. Hah, ya sudahlah, mungkin hidup demikian adanya. Aku hanya perlu menjalaninya saja. 

Hari ini, aku dan Riko sedang sibuk membahas suatu proyek yang harus kami menangkan. Senang selalu bisa bekerja sama dengannya. Riko merupakan rekan kerja yang paling mengerti segalanya tentangku. Namun entah mengapa hari ini ia terasa sangat menyebalkan.

"Ayolah, dua belas tahun sudah kamu hidup sendiri. Apa tidak terpikirkan tentang suatu pernikahan?" celetuk Riko blak-blakan

"Aku sudah melupakan yang namanya cinta sejak dua belas tahun yang lalu. Lagi pula kau tahu sendirikan, aku ini seorang pria yang lebih senang menghabiskan waktu bersama monitor-monitor segi panjang ini. Mana sempat aku buang-buang waktu cuma buat mesra-mesraan di ranjang!" jawabku santai

"Wah..., kau memang benar-benar sudah gila!" Riko menggeleng-gelengkan kepalanya

Aku hanya tersenyum dan fokus ke layar.

"Heh, kau itu harus sadar kalau hidup itu terus berjalan, yang lama pergi kemudian datanglah yang baru. Orang-orang dunia ini pula lebih memilih untuk banyak melakukan perubahan. Kau itu malah berpikir sebaliknya,  hanya ditinggalkan seorang wanita, terus kau hanya ingin hidupmu berhenti di situ-situ aja? Apa tidak terpikir olehmu tentang suatu perubahan?" Riko mencoba memberiku pencerahan lagi dan lagi

Aku menghentikan aktivitasku. Tangan-tanganku yang sedari tadi terus menari di atas keyboard, mendadak berhenti, "Cukup, Rik. Aku sudah tidak ingin membahas soal cinta lagi!" tegasku menatapnya tajam

"Aku hanya ingin kamu mengubah hidupmu." jawab Riko menegaskan

"Hidupku sudah berubah!" jawabku dengan nada tinggi

Riko terdiam. 

"Hidupku sudah berubah ketika wanita itu pergi begitu saja meninggalkanku. Dia..."

Aku mencoba menahan emosiku yang nyaris meledak. Kepejamkan sejenak mataku sambil menghela napas panjang. "Dia, dia yang memaksaku untuk hidup seperti ini. Dia yang membuat aku begini." sambungku tanpa melihat Riko

"You are wrong." 

Aku mulai muak membahas hal ini. "Seandainya kamu mengerti, betapa hancurnya hati ini menanti setiap hari, mungkin kamu akan mengatakan hal yang sama denganku!"

"Cinta itu memaafkan Wisnu, memaafkan." ujar Riko 

"Aku sudah memaafkan dia, tetapi aku tidak pernah bisa memaafkan tindakannya ketika pergi dari hidupku, meninggalkanku begitu saja, tidak akan pernah bisa!" aku pun memilih pergi meninggalkannya

"Wisnu!! Wisnu!!" Riko berteriak memanggilku

Aku tak ingin mendengarkannya saat ini. Terlalu menyebalkan mendengarkan kisah itu kembali terangkat. Aku sudah mengubur itu dalam-dalam. Akibat jalan tanpa melihat ke depan, tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang ada di hadapanku.

"Upss!! Maaf, maafkan aku." 

Aku hanya diam lalu melihat ke arah wanita itu

"Apa?!" ucapku setengah terkejut setengah tidak percaya

Aku pun memilih segera pergi dari tempat itu. 

"Tunggu!" teriak wanita itu

Aku tetap berjalan tanpa peduli. Wanita itu pun mengejarku. 

"Wisnu, please, please!! Aku harus bicara sama kamu." teriak wanita itu padaku

Aku terus berjalan dengan cepat. Wanita itu pun semakin kewalahan.

"Wisnuu!!" teriaknya lagi, "Aku ke sini, untuk meminta maaf padamu." sambung wanita itu.

Langkahku terhenti. Mendadak aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri, emosiku sudah ingin meledak rasanya, kedua tanganku mengepal, rahang-rahangku mengatup begitu kuat, mataku berkaca-kaca, buliran air mata sudah terproduksi dan siap jatuh.

"Maafkan aku Wisnu, tolong." ucapnya memohon

Aku berbalik. Kedua mataku menatapnya begitu tajam, "Lihatlah, tahukah engkau sudah berapa liter atau desimeter kubik air mata yang aku teteskan hanya untuk menangisi kepergianmu, menyalahkan ketidakmampuan diriku sendiri? Tidakkah engkau memahami itu?" cibirku terus terang

"Sekarang begitu mudahnya kamu datang lalu meminta maaf kepadaku?" lanjutku belum selesai

Dia berjalan menghampiriku. Aku dan dirinya saling berhadapan tanpa jarak yang berarti. Kami saling menatap satu sama lain.

"Kamu harus tahu semua alasannya. Alasan mengapa aku pergi meninggalkan kamu. Kamu harus mengetahuinya." ucapnya dengan tegas


To be continue....

Selasa, 21 Juni 2016

Let's Get Lost on the Kindness Way

Halo, semua!! :)
Bagaimana kabarnya? Mimin doakan semoga selalu sehat dan baik ya. Baiklah, tanpa perlu prolog yang panjang-panjang, kita akan langsung ke topik pembahasan, yaitu "Let Get Lost on the Kindness Way."


Jumat, 17 Juni 2016

Belajar dari Pohon

Hello guys, kita meet up lagi nih ( hehe, meet up di dunia maya, maksudnya)
Hiks, si mimin lucu banget :(
( katanya lucu, kok emotnya sedih?? Sumpah, mimin terharu banget. #ketawangakak)
Well, kita langsung aja ke topik yang mau mimin bahas, yaitu mengenai sebuah pembelajaran kehidupan dari salah satu makhluk ciptaan Tuhan, yaitu "Pohon".

Pohon?? Lo serius Min? Ngapai juga pohon dibahas-bahas?? Mana pakek disuruh belajar dari pohonlah, gadak kerjaan Min??

Wait, wait, santai, tenang dulu dong. Hidup itu jangan langsung menyimpulkan sesuatu dengan mudah, dengerin dulu apa yang mau disampaikan, selanjutnya silahkan berkomentar. Oke guys?? :)

Kenapa Mimin, kali ini mengambil pembahasan tentang "Belajar dari Pohon" ?
Singkatnya, kemarin waktu iseng pengen baca buku, enggak sengaja mimin buka buku yang judulnya "Senandung Cinta" karya siapa gitu mimin lupa (hehe, maafkeun yak?), buku itu sih buku tentang yang isinya tentang beragam puisi tapi bentuknya prosa sederhana dan setiap syair yang dituliskan memiliki makna yang luar biasa. Mimin terpesona dengan kata-kata yang dibuat oleh penulis buku "Senandung Cinta" itu. Kemarin, secara tidak sengaja mimin buka halaman yang inti sarinya itu kalau menurut kesimpulan Mimin (jiaah, si mimin gaya-gayaan), kesimpulannya itu tentang sebuah penghargaan yang harusnya kita berikan kepada diri kita, tak peduli apakah usaha yang kita lakukan itu berhasil atau tidak, yang terpenting adalah sebuah penghargaan yg selama ini sering kali kita lupakan.


Sabtu, 11 Juni 2016

Takdir : "Satu Kata, Lawan!"

Tugas 4 : Kelas KMO
Pemateri : ernawatililys



BAB 1
Takdir
Ini itu, begini begitu
Akankah hidup selalu seperti itu
Termenung, termangu dan dibelenggu
Tuhan, haruskah hidup ini begitu?
(Diis, Catatan kegundahan)

Pernahkah, meskipun hanya sekali untuk hidup yang telah kita jalani sejauh ini, mempertanyakan semua peritiswa yang sudah atau bahkan belum terjadi? Kenapa kita terlahir dengan kenyataan yang pahit? Mengapa mereka beruntung dan kita tidak? Mengapa hidup yang dijalani ini terasa rumit? Mengapa Tuhan memberikan keadilan melalui banyak pengorbanan? Mengapa kematian harus menyatu dengan kehidupan?
Sekalipun pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan, butuh banyak waktu untuk mengetahui jawabannya. Tidak serta merta apa yang dipertanyakan, semua akan terjawab begitu saja. Bahkan jika kita mengharap belas kasih dari Tuhan, jawaban itu tidak akan langsung turun dari langit dan dengan senang hati menghampiri pikiran kita, seraya memperkenalkan diri, "Hi, akulah jawaban dari semua pertanyaanmu itu.".

Kamis, 02 Juni 2016

Min Map dan Outline


Baiklah. dari sepuluh tema yang saya tulis kemarin, saya memilih dua tema dibawah untuk saya kembangkan menjadi sebuah buku sebagai pemenuhan tugas dari KMO06B, berikut MIND MAP tema yang saya pilih:

Minggu, 29 Mei 2016

Ide Tulisan Nonfiksi

Ranah nonfiksi tentu merupakan tantangan tersendiri bagi saya mengingat saya lebih suka fiksi. Oleh karena itu untuk memenuhi tantangan dari KMO06, Sepuluh Ide yang sedang berputar-putar di otak saya tentang tema untuk tulisan nonfiksi yaitu:
1. Fisika Nuklir
2. Shadow economy 
3. Melawan Takdir
4. Bermain bersama Arduino Uno
5. Pengaruh Media terhadap dunia
6. Aplikasi Presentasi
7. Pemuda dan Problematikanya
8. Cinta vs Jatuh
9. Fisika Medis
10. Dunia dalam Retorika